|
Jawaban: Apakah arti hidup? Bagaimana saya dapat menemukan tujuan, pemenuhan dan kepuasan dalam hidup? Apakah saya memiliki potensi untuk mencapai sesuatu yang memiliki makna yang langgeng? Banyak orang tidak pernah berhenti mempertimbangkan apakah arti hidup itu. Mereka memandang ke belakang dan tidak mengerti mengapa relasi mereka berantakan dan mengapa mereka merasa begitu kosong walaupun mereka telah berhasil mencapai apa yang mereka cita-citakan. Salah satu pemain baseball yang namanya dicatat dalam Baseball Hall of Fame ditanya apa yang dia harap orang beritahu dia ketika dia baru mulai bermain baseball. Dia menjawab, “Saya berharap orang akan memberitahu saya bahwa ketika kamu sampai di puncak, di sana tidak ada apa-apa.” Banyak sasaran hidup ternyata kosong setelah dikejar dengan sia-sia bertahun-tahun lamanya. Dalam masyarakan humanistik kita, orang mengejar banyak cita-cita, menganggap bahwa di dalamnya mereka akan mendapatkan makna. Beberapa cita-cita ini termasuk: kesuksesan bisnis, kekayaan, relasi yang baik, seks, hiburan, berbuat baik kepada orang lain, dll. Orang-orang memberi kesaksian bahwa saat mereka mencapai cita-cita mereka untuk mendapat kekayaan, relasi dan kesenangan, di dalam diri mereka ada kekosongan yang dalam, perasaan kosong yang tidak dapat dipenuhi oleh apapun. Penulis kitab Pengkhotbah menjelaskan perasaan ini ketika dia mengatakan, “Kesia-siaan belaka, kesia-siaan belaka, … segala sesuatu adalah sia-sia.” Penulis memiliki kekayaan yang tak terkira, hikmat kebijaksanaan yang melampaui orang-orang pada zamannya maupun zaman sekarang, dia memiliki ratusan wanita, istana dan taman yang menjadikan kerajaan-kerajaan lain cemburu, makanan dan anggur terbaik, dan segala bentuk hiburan. Satu saat dia berkata, segala yang diinginkan hatinya dikejarnya. Namun kemudian dia menyimpulkan, “hidup di bawah matahari” (hidup dengan sikap sepertinya hidup itu hanyalah apa yang kita lihat dan rasakan) adalah kesia-siaan belaka! Mengapa bisa ada kehampaan seperti ini? Karena Allah menciptakan kita untuk sesuatu yang melampaui apa yang dapat kita alami dalam dunia sekarang ini. Tentang Allah, Salomo berkata, “Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka …” Dalam hati kita, kita senantiasa sadar bahwa dunia sekarang ini bukan segalanya. Dalam kitab Kejadian, kitab pertama dalam Alkitab, kita mendapatkan bahwa Tuhan menciptakan manusia menurut gambarNya (Kejadian 1:26). Ini berarti kita lebih mirip dengan Tuhan daripada dengan ciptaan-ciptaan lainnya. Kita juga mendapatkan bahwa sebelum manusia jatuh dalam dosa dan bumi dikutuk: (1) Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial (Kejadian 2:18-25); (2) Tuhan memberi manusia pekerjaan (Kejadian 2:15); (3) Tuhan memiliki persekutuan dengan manusia (Kejadian 3:8); dan (4) Tuhan memberi manusia kuasa atas bumi ini (Kejadian 1:26). Apakah arti semua ini? Saya percaya bahwa Allah menginginkan semua ini menambah kepuasan dalam hidup kita, namun semua ini (khususnya persekutuan manusia dengan Tuhan) telah dirusakkan oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa dan juga oleh kutukan atas bumi ini (Kejadian 3). Dalam kitab Wahyu, kitab terakhir dalam Alkitab, di bagian akhir dari banyak peristiwa yang terjadi pada zaman akhir, Tuhan mengungkapkan bahwa Dia akan menghancurkan langit dan bumi ini dan membawa kekekalan dengan menciptakan langit dan bumi yang baru. Pada waktu itu Dia akan memulihkan persekutuan dengan orang-orang yang sudah ditebus. Sebagian umat manusia akan dihukum dan dilemparkan ke dalam Lautan Api (Wahyu 20:11-15). Pada waktu ini kutukan atas bumi ini akan disingkirkan, dan tidak akan ada lagi dosa, kesusahan, penyakit, kematian, kesakitan, dll (Wahyu 21:4). Dan orang-orang percaya akan mewarisi segala sesuatu, Allah akan berdiam dengan mereka dan mereka akan menjadi anak-anakNya (Wahyu 21:7). Dengan demikian kita menggenapi siklus di mana Allah menciptakan kita untuk bersekutu dengan Dia, manusia jatuh dalam dosa dan memutuskan persekutuan itu; dalam kekekalan Allah memulihkan hubungan itu secara penuh dengan orang-orang yang Dia pandang layak. Hidup dalam dunia ini dan mendapatkan segala sesuatu hanya untuk mati dan terpisah dari Tuhan untuk selama-lamanya adalah lebih buruk dari kesia-siaan! Namun Tuhan telah membuat jalan di mana bukan saja kebahagiaan kekal dimungkinkan (Lukas 23:43), namun juga agar hidup sekarang ini memuaskan dan berarti. Sekarang, bagaimana kebahagiaan kekal dan “surga di bumi” ini dapat diperoleh? MAKNA HIDUP DIPULIHKAN MELALUI YESUS KRISTUS Sebagaimana telah diindikasikan di atas makna hidup, baik sekarang maupun dalam kekekalan ditemukan dalam hubungan yang dipulihkan dengan Tuhan; hubungan yang telah lenyap ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Hari ini, hubungan dengan Allah itu dimungkinkan hanya melalui AnakNya, Yesus Kristus (Kisah Rasul 4:12; Yohanes 14:6; 1:12). Hidup kekal diperoleh ketika seseorang menyesali dosa-dosanya (tidak mau lagi hidup dalam dosa namun ingin Kristus mengubah mereka dan menjadikan mereka pribadi-pribadi yang baru) dan milai bergantung pada Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Arti hidup yang sebenarnya tidak ditemukan hanya dengan mengenal Yesus sebagai Juruselamat (seindah apapun hal itu). Makna hidup yang sebenarnya ditemukan ketika orang mulai berjalan mengikuti Kristus sebagai muridNya, belajar dari Dia, menggunakan waktu bersama dengan Dia dalam FirmanNya, Alkitab, bersekutu dengan Dia dalam doa, dan berjalan denganNya dalam ketaatan kepada perintah-perintahNya. Jikalau Anda adalah orang yang belum percaya (atau baru percaya), Anda mungkin akan mengatakan kepada diri sendiri, “Sepertinya itu tidak terlalu menggairahkan atau menyenangkan untuk saya!” Tapi tolong baca lebih lanjut. Yesus membuat pernyataan-pernyataan ini: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan" (Matius 11:28-30). “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10b). "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Matius 16:24-25). “Dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mazmur 37:4). Apa yang dikatakan oleh ayat-ayat ini adalah bahwa kita memiliki pilihan. Kita bisa terus berusaha mengarahkan hidup kita sendiri (dan sebagai hasilnya hidup dalam kehidupan yang kosong) atau kita bisa memilih untuk mengikuti Tuhan dan rencanaNya bagi hidup kita, mengikutiNya dengan sepenuh hati (hasilnya, hidup yang penuh, cita-cita kesampaian, dan mendapatkan kepuasan). Hal ini karena Pencipta kita mengasihi kita dan menghendaki yang terbaik bagi kita (bukan selalu yang paling mudah, tapi yang paling memuaskan). Sebagai penutup, saya ingin membagikan sebuah perumpamaan yang saya pinjam dari seorang teman pendeta. Jikalau Anda adalah penggemar olahraga dan Anda memutuskan untuk pergi ke pertandingan professional, Anda dapat membayar beberapa Rupiah /dollar, dan duduk di barisan paling atas di stadion, atau Anda merogoh beberapa ratus rupiah/dollar dan duduk dekat dengan lapangan pertandingan. Demikian pula dengan hidup keKristenan. Menyaksikan Tuhan bekerja SECARA LANGSUNG bukanlah bagian dari orang-orang Kristen hari Minggu. Menyaksikan Allah bekerja SECARA LANGSUNG adalah bagi murid-murid Tuhan yang sepenuh hati, yang telah berhenti mengejar keinginan mereka sendiri dalam hidup ini supaya mereka bisa mengejar rencana Tuhan. MEREKA telah membayar harga (penyerahan penuh kepada Kristus dan kehendakNya); mereka menikmati hidup secara penuh; dan mereka bisa memandang diri sendiri, teman-teman mereka, dan Pencipta mereka tanpa ada penyesalan. Sudahkah Anda membayar harga? Apakah Anda bersedia? Jika demikian, Anda tidak akan pernah kehilangan makna atau tujuan hidup lagi. |
Jumat, 25 Juli 2014
Apa arti hidup?
Bagaimana saya mengetahui bahwa saya jatuh cinta?
Jawaban: Natur kemanusiaan kita memberitahu kita bahwa cinta tidak lebih dari emosi. Kita mengambil keputusan berdasarkan emosi kita, bahwa menikah karena kita merasa “jatuh cinta.” Inilah alasan mengapa kurang lebih setengah dari pernikahan pertama berakhir dengan perceraian. Alkitab mengajar kita bahwa cinta sejati bukanlah sekedar emosi yang datang dan pergi tapi adalah sebuah keputusan. Kita bukan hanya mencintai orang yang mencintai kita, kita bahkan perlu mencintai mereka yang membenci kita, sama seperti Kristus mengasihi mereka yang tidak dapat dikasihi (Lukas 6:35). “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13:4-7).
Adalah sangat mudah untuk jatuh cinta dengan seseorang namun ada beberapa pertanyaan yang perlu ditanyakan kepada diri sendiri sebelum memutuskan bahwa “radar cinta” Anda menuntun Anda ke arah yang benar. Pertama apakah orang tsb adalah orang Kristen, artinya apakah mereka telah memberi hidup mereka kepada Kristus dan percaya kepadaNya untuk keselamatan mereka? Juga perlu dipertanyakan, jika seseorang mau memberi hati dan perasaan mereka pada satu orang, apakah mereka bersedia untuk menempatkan orang tsb di atas orang-orang lain dan menempatkan hubungan mereka, setelah menikah, di atas segala-galanya, kecuali dalam hubungannya dengan Tuhan? Alkitab mengatakan ketika dua orang menikah, mereka menjadi satu daging (Kejadian 2:24; Matius 19:5).
Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah apakah orang tsb adalah calon pasangan hidup yang baik? Apakah mereka telah mendahulukan Tuhan di dalam hidup mereka? Apakah mereka bersedia menggunakan waktu dan tenaga mereka untuk membantu membangun hubungan pernikahan yang bertahan seumur hidup? Apakah orang itu adalah seseorang yang Anda mau nikahi? Tidak ada tongkat pengukur untuk menentukan kapan kita jatuh cinta pada seseorang, namun penting untuk membedakan apakah kita sekedar mengikuti emosi kita atau mengikuti kehendak Tuhan untuk hidup kita.
Kamis, 24 Juli 2014
Apakah Allah masih memberi penglihatan pada zaman sekarang?
Jawaban: Dapatkah Allah memberi penglihatan pada orang-orang pada zaman sekarang? Ya! Apakah Allah memberi penglihatan pada orang-orang pada zaman sekarang? Mungkin. Patutkah kita mengharapkan penglihatan sebagai sesuatu yang lumrah? Tidak! Sebagaimana dicatat dalam Alkitab, Allah telah berkali-kali berbicara kepada orang-orang dengan perantaraan penglihatan. Contoh-contohnya meliputi Yusuf anak Yakub, Yusuf suami Maria, Salomo, Yesaya, Yehezkiel, Daniel, Petrus, Paulus dan banyak lagi yang lainnya. Nabi Yoel menubuatkan dicurahkannya penglihatan dan hal ini dikonfirmasikan oleh Rasul Petrus dalam Kisah pasal 2. Catatan: perbedaan antara penglihatan dan mimpi adalah bahwa penglihatan diberikan ketika orang “bangun/sadar” sementara mimpi diberikan ketika orang “tertidur.”
Di banyak bagian dunia Allah nampaknya menggunakan penglihatan secara ekstensif. Di daerah-daerah di mana tidak banyak berita Injil yang tersedia, Allah membawa beritaNya kepada umatNya secara langsung. Hal ini konsisten dengan contoh Alkitab bahwa penglihatan sering dipergunakan Allah untuk mengungkapkan kebenaranNya pada hari-hari awal dari keKristenan (lihat kitab Kisah Rasul). Jika Alllah ingin mengkomunikasikan beritaNya secara pribadi, Dia dapat saja menggunakan cara apapun yang Dia pandang perlu – misionari, malaikat, penglihatan, mimpi, dll. Tentunya Allah juga mampu memberikan penglihatan di tempat-tempat di mana berita Injil telah tersedia. Tidak ada batas untuk apa yang dapat dilakukan Allah.
Pada saat yang sama, kita mesti berhati-hati sekali ketika berbicara mengenai penglihatan dan penafsiran dari penglihatan. Kita mesti ingat bahwa Alkitab telah lengkap dan memberitahukan segala yang kita perlu tahu. Kebenaran utama adalah bahwa jika Allah memberi penglihatan, hal itu akan persis sesuai dengan apa yang telah diungkapkanNya dalam Alkitab. Penglihatan tidak pernah boleh mendapat otoritas yang sama atau lebih tinggi dari Firman Allah. Firman Allah adalah otoritas tertinggi dari iman dan cara hidup orang Kristen. Jika Anda percaya bahwa Anda mendapat penglihatan dan merasa bahwa barangkali Allah memberikan itu kepada Anda, telitilah Firman Tuhan dengan sikap berdoa dan pastikan bahwa penglihatan Anda sesuai dengan Alkitab. Jika begitu, dengan berdoa pertimbangkan apa yang Allah mau Anda lakukan sebagai respon terhadap penglihatan itu (Yakobus 1:5). Allah tidak akan memberi penglihatan kepada seseorang dan membiarkan makna dari penglihatan itu tersembunyi. Dalam Alkitab, ketika seseorang menanyakan makna dari penglihatan kepada Allah, Allah memastikan bahwa maknanya dijelaskan kepada orang itu (lihat Daniel 8:15-17).
Selasa, 22 Juli 2014
Apa itu pertumbuhan rohani?
Pertumbuhan rohani ada proses menjadi makin serupa dengan Yesus Kristus. Ketika kita menempatkan iman kita kepada Yesus, Roh Kudus memulai proses menjadikan kita makin serupa dengan Yesus, menjadikan kita sama dengan gambarNya. Pertumbuhan rohani barangkali diuraikan dengan paling jelas dalam 2 Petrus 1:3-8 yang memberitahukan kita bahwa dengan kuasa Allah Dia “telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Dalam Galatia 5:19-23 ada dua macam daftar. Galatia 5:19-21 mencatat “perbuatan daging.” Hal-hal ini adalah hal-hal yang merupakan kehidupan kita sebelum kita percaya Yesus untuk keselamatan kita. Perbuatan-perbuatan kedagingan adalah kegiatan-kegiatan yang kita akui, sesali dan dengan pertolongan Tuhan kita kalahkan. Saat kita mengalami pertumbuhan rohani, makin sedikit “perbuatan-perbuatan kedagingan” yang nyata dalam hidup kita. Daftar kedua adalah “buah Roh” (Galatia 5:22-33). Ini adalah hal-hal yang merupakan kehidupan kita setelah kita mengalami keselamatan di dalam Yesus Kristus. Pertumbuhan rohani dinyatakan dengan makin nyatanya buah Roh dalam kehidupan orang percaya.
Ketika terjadi perubahan hidup karena diselamatkan, pertumbuhan rohani dimulai. Roh Kudus berdiam di dalam kita (Yohanes 14:16-17). Kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus (2 Korintus 5:17). pribadilama kita digantikan dengan yang baru (Roma 6-7). Pertumbuhan rohani adalah proses seumur hidup yang terjadi melalui mempelajari dan menerapkan Firman Tuhan (2 Timotius 3:16-17), dan berjalan dengan Roh (Galatia 5:16-26). Untuk bertumbuh secara rohani, kita dapat berdoa kepada Tuhan, minta Dia memberi hikmat untuk bagian-bagian apa dalam hidup kita yang Dia ingin kita bertumbuh. Kita dapat memohon kepada Tuhan untuk menolong kita meningkatkan iman dan pengetahuan kita akan Dia. Tuhan menghendaki kita untuk bertumbuh secara rohani. Tuhan telah memberi kita segala yang kita butuhkan untuk mengalami pertumbuhan rohani. Dengan pertolongan Roh Kudus kita dapat mengalahkan dosa dan dengan pasti makin menjadi serupa dengan Juruselamat kita, Tuhan Yesus Kristus.
Ada yang berpendapat bahwa kebangkitan Kristus adalah sekedar legenda belaka, bukan sejarah. Benarkah pendapat ini?
Ada orang yang mengkritik bahwa Injil telah mengaburkan sejarah tentang Yesus dari Nazaret dengan menyelubunginya dengan sejumlah dongeng dan legenda [1]. Mereka mengklaim bahwa kebangkitanNya sebagaimana disaksikan oleh Injil adalah sekedar legenda saja dan bukan kenyataan. Empat ALASAN berikut membuktikan bahwa pendapat ini salah.
- Perbandingan secara literatur membuktikan bahwa
dongeng dan legenda membutuhkan waktu beberapa generasi untuk
dikembangkan. Tak ada hubungannya antara pengembangan suatu cerita
legenda karena banyak saksi mata yang masih hidup dan berkembang dalam
jangka waktu yang pendek dalam jaman perjanjian baru.[2] (for more info)
Riset sejarah menunjukkan kepercayaan yang segera timbul akan
kebangkitan Kristus. Iman kepercayaan para rasul mula-mula adalah
tentang kebangkitan Kristus (1 Korintus 15 :3-9). Kejadian dalam 1
Korintus ini diperkirakan terjadi 3 sampai 7 tahun setelah kematian dan
kebangkitan Kristus. [3]. Ini menunjukkan tingkat kepercayaan publik sebelumnya.
Para peneliti pun setuju bahwa surat pertama Rasul Paulus ditulis kurang lebih 25 tahun setelah pelayanan Yesus, dan keempat Injil ditulis 21 tahun setelah pelayanan Yesus (tak lebih dari enam puluh lima tahun)[4]. Kotbah para Rasul selalu berpusat pada kebangkitan Kristus. Dan dalam waktu yang singkat umat Yahudi di seluruh kerajaan Romawi yang percaya padaNya merubah hari kebaktian mereka dari hari ketujuh setiap minggu menjadi hari pertama untuk merayakan kebangkitan Kristus.
Ratusan saksi melihat Kristus hidup setelah kematianNya. Dalam satu kejadian Ia menampakkan diri kepada 500 orang sekaligus (1 Korintus 15:6).
- Banyak
saksi mata dalam pelayanan Kristus menunjukkan sikap bermusuhan
terhadap Yesus seperti dinyatakan oleh Injil (Matius 12 :24).
Lawan-lawannya mempunyai motivasi untuk menjatuhkanNya, namun mereka tak
pernah sekalipun menemukan kesalahanNya.[5]
- Injil tidak mmirip legenda Yahudi maupun Yunani. Injil sama sekali tidak memuat kisah pahlawan yang legendaris.[6] Sebagai contoh ada enam faktor dalam Yohanes 20 yang ganjil dan bertentangan dengan tendensi kisah legenda:
- Dengan pengendalian yang kuat, tidak ada usaha yang dilakukan menjelaskan tentang kebangkitanNya.
- Maria Magdalena pada mulanya tidak mengenali Tuhan Yesus yang telah bangkit (Yohanes 20:14).
- Bahkan ia tidak mengetahui adanya sesuatu yang khusus tentang Dia (Yohanes 20 :16)
- Pada akhir hari itu, para Rasul bersembunyi karena ketakutan terhadap orang Yahudi (Yohanes 20:19)
- Adalah suatu hal yang luar biasa jika Yohanes memilih seorang
wanita sebagai saksi mata pertama akan kebangkitan Yesus, karena pada
masa itu kesaksian seorang wanita tidak sah secara hukum.[7]
- Bahkan keberanian mereka sehari setelah kebangkitan bertentangan dengan ketakutan mereka sebelumnya yang memalukan itu.
- Dengan pengendalian yang kuat, tidak ada usaha yang dilakukan menjelaskan tentang kebangkitanNya.
- Bangsa Yahudi bukanlah suku bangsa yang dengan mudah dapat menciptakan legenda tentang Kristus. Karena budaya (budaya monoteis dan pengenalan akan Tuhan) mereka sangat menentang akan legenda-legenda yang menipu manusia.[8]
- Kebangkitan Kristus adalah mitos, bukan sejarah.
-
Cerita tentang Kebangkitan penuh dengan kontradiksi.
- Keajaiban tidak mungkin terjadi.
- Tubuh Yesus telah dicuri.
- Yesus hanya pingsan dan kemudian sembuh dari luka-lukaNya.
- Saksi mata hanya “melihat apa adanya”
REFERENSI DAN CATATAN KAKI
- Rudolf Bultmann, Jesus Christ and Mythology (Scribner's, 1958). [up]
- John A.T. Robinson berpendapat bahwa penghancuran Yerusalem
yang dilakukan pada tahun 70 SM maka Perjanjian Baru ditulis pada masa
sebelum itu. Karena sejak penghancuran tersebut semakin mendukung ajaran
Kristen yang mengajarkan bahwa Yesus Kristus telah mengganti sistem
pengorbanan (Yohanes 1:29, Ibrani 10:12) Perjanjian Baru secara pati
juga menghubungkan penghancuran tersebut dengan kiamat (Lukas
21:25-28). [John A.T. Robinson, Redating the New Testament (SCM Press, 1976).]
John Macquarrie menulis, "Legenda biasanya mengambil tempat
dan waktu yang tak jelas di masa lalu, berbeda dengan Injil yang
menjelaskan tempat secara jelas di Palestina dan dalam masa pemerintahan
Pontius Pilatus, pada masa satu generasi atau dua generasi sebelum
Perjanjian Baru ditulis" [John Macquarrie, God-Talk: An Examination of the Language and Logic of Theology (Harper, 1967), pp. 177-180.]
A.N. Sherwin-White menulis, "Para kritikus agnostic akan dapat lebih dipercaya jika Injil lebih tua umurnya Herodotus (sejarawan Mesir yang menuliskan tentang Kristus dalam salah satu beritanya) menunjukkan pada kita bahwa jarak dua generasi amatlah pendek untuk mengembangkan suatu legenda." [A.N. Sherwin-White, Roman Society and Roman Law in the New Testament (Oxford University Press, 1963), pp. 189-190.] [up]
- See Reginald Fuller, Foundations of New Testament Christology (Scribner's, 1965), p. 142. [up]
- See Frederick Fyvie Bruce, The New Testament Documents: Are They Reliable? (Downer's Grove, IL: InterVarsity Press, 1972), pp. 11f, 14f. [up]
- Eta Linnemann, menulis, "Para saksi mata (baik musuh maupun
simpatisan tidaklah menghilang begitu saja dalam masa 20 tahun. Sampai
dengan tahun 70 SM
yang pada masa itu mereka dengan berani bersaksi
sehingga mereka mendapat suatu pengakuan.") [Eta Linnemann, Is There a Synoptic Problem?
(Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1992), p. 64.] Menarik untuk
disimak, Dr. Linnemann sebelumnya pengkritik negatip terhadap
Perjanjian Baru sebagaimana Rudolf Bultmann. Setelah merubah pendapatnya
semula, dia sekarang meminta pembaca membuang karyanya terdahulu. [up]
- Michael Grant menulis, "Kritikus modern telah gagal untuk
mengembangkan teori Legenda Kristus (seperti Osiris, Mithras dan
lain-lain). Dan telah dijawab oleh para ahli.") [Michael Grant, Jesus: An Historian's Review of the Gospels (Scribner's, 1977), p. 200.] [up]
- Michael Green, The Empty Cross of Jesus (Downer's Grove, Illinois: InterVarsity Press, 1984), p. 115. [up]
- M. Grant. menulis, "Yudaisme sangat asing dengan doktrin kelahiran dan kematian dewa-dewa." [Michael Grant, Jesus: An Historian's Review of the Gospels (Scribner's, 1977), p. 199.] Oxford's N.T. Wright membantah pernyataan Spong bahwa Injil adalah Jewish midrash dan karenanya merupakan fantasi N.T. Wright, Who Was Jesus? (Wm. B. Eerdmans Pub. Co, 1992). Keduanya berbeda aliran. Dan midrash sebenarnya bukan fantasi, namun materi yang “dikendalikan dengan ketat” (p. 71f). Lihat juga Paul Barnett, Peter Jensen and David Peterson, Resurrection: Truth and Reality: Three Scholars Reply to Bishop Spong (Aquila, 1994). [up]
Bagaimana saya bisa yakin tentang keselamatan?
Banyak orang berjuang dengan
ketidakpastian tentang keselamatan mereka. Jika Saudara menghadapi hal
ini, ada beberapa pertanyaan yang dapat Saudara ajukan kepada diri
Saudara sendiri untuk membantu Saudara dapat yakin tentang hubungan
pribadi Saudara dengan Tuhan.
- Sudahkah saya percaya kepada Yesus Kristus sebagai pengganti dosa-dosa saya dan menerimaNya sebagai penyelamat pribadi?
Alkitab mengatakan bahwa hanya inilah satu-satunya jalan untuk mendapatkan keselamatan.
“Tetapi semua orang yang menerimanya diberinya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya.” (Yohanes 1:12).
- Apakah Saudara lebih mempercayai perasaan Saudara daripada firman Tuhan, sebagai kepastian dari keselamatan?
Alkitab berkata:“Barangsiapa percaya kepada Anak ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” (Yohanes 3:36).
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yohanes 5:24).
- Apakah Saudara mendasarkan keselamatan atas apa yang telah
Saudara lakukan bagi Tuhan, daripada apa yang telah Tuhan lakukan bagi
Saudara?
Alkitab berkata bahwa bukan apa yang kita perbuat untuk memperoleh keselamatan. Allah, karena kasih karuniaNya, mengerjakan semua yang diperlukan supaya selesai.
“Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya.” (Titus 3:5a).
Alkitab mengatakan bahwa kita dapat meyakini bahwa kita memiliki hidup yang kekal jika kita percaya kepada Yesus sebagai penyelamat kita! “Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” (1 Yoh 5:11-13).
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9).
"Apakah karunia berbahasa roh?"
Jawaban: Terjadinya pertama berbicara dalam bahasa roh terjadi pada hari Pentakosta dalam Kisah Para Rasul 2: 1-4. Para rasul keluar dan membagikan Injil dengan orang banyak, berbicara kepada mereka dalam bahasa mereka sendiri: "Kita mendengar mereka menyatakan keajaiban Allah dalam bahasa kita sendiri" (Kisah Para Rasul 2:11). Kata Yunani lidah diterjemahkan secara harfiah berarti "bahasa." Oleh karena itu, karunia lidah berbicara dalam bahasa seseorang tidak tahu dalam rangka untuk melayani seseorang yang tidak berbicara bahasa tersebut. Dalam 1 Korintus pasal 12-14, Paulus membahas hadiah ajaib, mengatakan, "Sekarang, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berbicara dalam bahasa roh, apa gunanya saya adalah untuk Anda, kecuali aku membawakan beberapa wahyu atau pengetahuan atau nubuat atau kata instruksi "(1 Korintus 14: 6)?. Menurut Rasul Paulus, dan sesuai dengan lidah dijelaskan dalam Kisah Para Rasul, berbicara dalam bahasa roh berharga untuk pesan Allah satu sidang dalam bahasa sendiri, tetapi ia tidak berguna untuk orang lain kecuali ditafsirkan / diterjemahkan.
Seseorang dengan karunia menafsirkan bahasa roh (1 Korintus 12:30) bisa memahami apa yang lidah-speaker mengatakan meskipun ia tidak tahu bahasa yang diucapkan. Lidah juru kemudian akan mengkomunikasikan pesan dari lidah speaker untuk orang lain, sehingga semua bisa mengerti. "Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh harus berdoa agar ia dapat menafsirkan apa yang dia katakan" (1 Korintus 14:13). Kesimpulan Paulus mengenai lidah yang tidak ditafsirkan sangat kuat: "Tapi di gereja saya lebih suka berbicara lima kata dimengerti untuk mengajar orang lain dari sepuluh ribu kata dalam lidah" (1 Korintus 14:19).
Apakah karunia lidah untuk hari ini? I Korintus 13: 8 menyebutkan karunia lidah berhenti, meskipun menghubungkan lenyapnya dengan kedatangan "sempurna" dalam 1 Korintus 13:10. Beberapa titik perbedaan dalam tegang dari kata kerja Yunani yang mengacu pada nubuat dan pengetahuan "lenyapnya" dan bahwa bahasa roh "yang berhenti" sebagai bukti lidah berhenti sebelum kedatangan "sempurna." Sementara mungkin, hal ini tidak secara eksplisit jelas dari teks. Beberapa juga menunjukkan ayat-ayat seperti Yesaya 28:11 dan Yoel 2: 28-29 sebagai bukti bahwa berbicara dalam bahasa roh adalah tanda penghakiman melaju Allah. I Korintus 14:22 menjelaskan lidah sebagai "tanda untuk orang-orang kafir." Menurut argumen ini, karunia lidah adalah peringatan bagi orang-orang Yahudi bahwa Allah akan menghakimi Israel karena menolak Yesus Kristus sebagai Mesias. Karena itu, ketika Allah ternyata memang hakim Israel (dengan kehancuran Yerusalem oleh Romawi pada tahun 70), karunia lidah tidak lagi melayani tujuan yang telah ditetapkan. Sementara pandangan ini mungkin, tujuan utama dari lidah terpenuhi tidak selalu menuntut penghentian tersebut. Alkitab tidak konklusif menyatakan bahwa karunia berbahasa lidah telah berhenti.
Pada saat yang sama, jika karunia berbahasa lidah yang aktif di gereja hari ini, itu akan dilakukan sesuai dengan Kitab Suci. Ini akan menjadi nyata dan dimengerti bahasa (1 Korintus 14:10). Ini akan menjadi untuk tujuan berkomunikasi Firman Tuhan dengan orang dari bahasa lain (Kis 2: 6-12). Ini akan menjadi sesuai dengan perintah Allah memberikan melalui Rasul Paulus, "Jika ada yang berkata lidah, dua-atau sebanyak-banyaknya tiga-berbicara, satu per satu, dan seseorang harus menafsirkan. Jika tidak ada penerjemah, pembicara harus tetap tenang dalam gereja dan berbicara kepada dirinya sendiri dan Allah "(1 Korintus 14: 27-28). Hal ini juga akan sesuai dengan 1 Korintus 14:33, "Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai, seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus."
Allah pasti dapat memberikan seseorang karunia berbahasa lidah untuk memungkinkan dia untuk berkomunikasi dengan orang yang berbicara bahasa lain. Roh Kudus adalah berdaulat dalam dispersi dari karunia rohani (1 Korintus 12:11). Coba bayangkan berapa banyak lagi misionaris produktif bisa jika mereka tidak harus pergi ke sekolah bahasa, dan langsung dapat berbicara dengan orang-orang dalam bahasa mereka sendiri. Namun, Tuhan tampaknya tidak akan melakukan hal ini. Bisa tampaknya tidak terjadi hari ini dengan cara itu dalam Perjanjian Baru, meskipun fakta bahwa itu akan sangat berguna. Sebagian besar orang percaya yang mengaku berlatih karunia berbahasa lidah tidak melakukannya sesuai dengan Kitab Suci yang disebutkan di atas. Fakta-fakta ini mengarah pada kesimpulan bahwa karunia lidah telah berhenti atau setidaknya jarang di rencana Allah bagi gereja hari.
Langganan:
Postingan (Atom)




